Selasa, 30 September 2014

Mengubah Stigma Tentang OSPEK



Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK). Dilihat dari namanya saja sudah mencerminkan bahwa tujuan dari OSPEK adalah untuk membantu mahasiswa baru agar memiliki pandangan tentang arah belajar serta mengenali seluk beluk dari kampusnya. Arah belajar mahasiswa berkaitan erat dengan sistem akademik yang berlaku di kampus.  Misal jam belajar, mata kuliah, penggunaan website kampus, cara mengetahui nilai secara online,  syarat Drop Out (D.O.), dsb. Sedangkan pengenalan kampus berarti pengenalan orang-orang yang terlibat dalam perkuliahan misal teman seangkatan, dosen, karyawan, dan lain-lain, fasilitas-fasilitas yang disediakan, organisasi-organisasi kampus, kepanitiaan, dan sebagainya. Itulah yang menjadi tujuan dari adanya kegiatan OSPEK agar mahasiswa tahu apa yang sepantasnya menjadi hak serta  apa yang harus mereka lakukan sebagai wujud pemenuhan tuntutan kewajiban mereka.

Tapi mengapa masih saja ada beberapa oknum menyalahgunakan acara OSPEK sebagai ajang (katanya) pelatihan mental. Ada sebagian yang mencari-cari kesalahan mahasiswa baru agar dapat memberikan hukuman. Ada juga yang menggunakan makian dan umpatan yang tak sepatutnya ditiru. Padahal OSPEK bukan ajang untuk menunjukkan arogansi para senior. Bukan pula digunakan sebagai ajang para senior untuk balas dendam atau melakukan intimidasi yang keras ke juniornya.

Ada sebagian mahasiswa baru yang memandang OSPEK dengan skeptis, itu karena mereka merasa diperlakukan tidak manusiawi. Ulah panitia OSPEK yang tidak segan-segan dengan mudahnya memberi hukuman kepada mahasiswa yang tidak displin. Parahnya lagi, ada  panitia OSPEK berusaha menemukan hukuman dengan mencari-cari kesalahan peserta OSPEK. Bila timbul pemikiran di benak mahasiswa baru bahwa OSPEK ialah hanya ajang balas dendam terhadap apa yang dirasakan oleh senior kepada junior, maka hal tersebut sah-sah saja karena kenyataan di lapangan mencerminkan demikian.

Jika kita melihat dari sudut pandang panitia OSPEK, tentu mereka memiliki alasan mengapa menerapkan sistem tekanan pada mahasiswa melalui verbal. Yang pertama, sistem ini tidak menyebabkan cedera fisik. Kedua, melalui sistem ini, diharapkan kegiatan OSPEK dapat dijadikan sebagai media untuk nilai keberanian dari mahasiswa untuk berargumen melawan statement yang telah diucapkan oleh panitia OSPEK jika mahasiswa baru menganggap tidak benar.

Namun ternyata lain halnya pada pelaksaannya. Peringatan secara verbal seakan hanya sekadar transformasi dari bentuk kekerasan fisik menjadi verbal sehingga melahirkan bentuk penindasan baru.  Peringatan yang digunakan  justru kebablasan sehingga harus menggunakan kata-kata kasar atau bahkan umpatan yang tak sepatutnya digunakan. Penanaman nilai seperti keberanian, kesetiakawanan, dan kejujuran berubah menjadi bentuk penanaman ketakutan. Jika melawan senior, mereka akan mendapatkan hukuman tertentu sehingga kadang sebagian besar dari peserta memilih untuk diam.                                              
 Padahal hal itu akan berdampak lebih buruk bila telah menjadi tradisi. Dampak dari perlakuan tersebut bisa lemah dalam berpikir, pelecehan etika dan moral, mematikan kreativitas, menumbuhkan dendam, meruntuhkan motivasi dan dampak lain. Dampak-dampak tersebut seharusnya ditanggulangi untuk memacu pertumbuhan generasi yang inovatif, kreatif dan produktif di kampus.