Orientasi Studi dan
Pengenalan Kampus (OSPEK). Dilihat dari namanya saja sudah mencerminkan bahwa tujuan dari OSPEK adalah untuk membantu
mahasiswa baru agar memiliki pandangan tentang arah belajar serta mengenali
seluk beluk dari kampusnya. Arah belajar mahasiswa berkaitan erat dengan sistem
akademik yang berlaku di kampus. Misal jam belajar, mata kuliah, penggunaan
website kampus, cara mengetahui nilai secara online, syarat Drop Out (D.O.), dsb. Sedangkan
pengenalan kampus berarti pengenalan orang-orang yang terlibat dalam
perkuliahan misal teman seangkatan, dosen, karyawan, dan lain-lain, fasilitas-fasilitas
yang disediakan, organisasi-organisasi kampus, kepanitiaan, dan sebagainya. Itulah
yang menjadi tujuan dari adanya kegiatan OSPEK agar mahasiswa tahu apa yang
sepantasnya menjadi hak serta apa yang harus mereka lakukan sebagai wujud
pemenuhan tuntutan kewajiban mereka.
Tapi mengapa
masih saja ada beberapa oknum menyalahgunakan acara OSPEK sebagai ajang
(katanya) pelatihan mental. Ada sebagian yang mencari-cari kesalahan mahasiswa
baru agar dapat memberikan hukuman. Ada juga yang menggunakan makian dan
umpatan yang tak sepatutnya ditiru. Padahal OSPEK bukan ajang untuk menunjukkan
arogansi para senior. Bukan pula digunakan sebagai ajang para senior untuk
balas dendam atau melakukan intimidasi yang keras ke juniornya.
Ada sebagian
mahasiswa baru yang memandang OSPEK dengan skeptis, itu karena mereka merasa
diperlakukan tidak manusiawi. Ulah panitia OSPEK yang tidak segan-segan dengan
mudahnya memberi hukuman kepada mahasiswa yang tidak displin. Parahnya lagi,
ada panitia OSPEK berusaha menemukan hukuman dengan mencari-cari
kesalahan peserta OSPEK. Bila timbul pemikiran di benak mahasiswa baru bahwa OSPEK
ialah hanya ajang balas dendam terhadap apa yang dirasakan oleh senior kepada
junior, maka hal tersebut sah-sah saja karena kenyataan di lapangan
mencerminkan demikian.
Jika kita
melihat dari sudut pandang panitia OSPEK, tentu mereka memiliki alasan mengapa
menerapkan sistem tekanan pada mahasiswa melalui verbal. Yang pertama, sistem
ini tidak menyebabkan cedera fisik. Kedua, melalui sistem ini, diharapkan
kegiatan OSPEK dapat dijadikan sebagai media untuk nilai keberanian dari
mahasiswa untuk berargumen melawan statement yang telah diucapkan oleh
panitia OSPEK jika mahasiswa baru menganggap tidak benar.
Namun ternyata
lain halnya pada pelaksaannya. Peringatan secara verbal seakan hanya sekadar transformasi
dari bentuk kekerasan fisik menjadi verbal sehingga melahirkan bentuk
penindasan baru. Peringatan yang digunakan justru kebablasan
sehingga harus menggunakan kata-kata kasar atau bahkan umpatan yang tak
sepatutnya digunakan. Penanaman nilai seperti keberanian, kesetiakawanan, dan
kejujuran berubah menjadi bentuk penanaman ketakutan. Jika melawan senior,
mereka akan mendapatkan hukuman tertentu sehingga kadang sebagian besar dari
peserta memilih untuk diam.
Padahal hal itu akan berdampak lebih buruk bila telah menjadi tradisi. Dampak dari perlakuan tersebut bisa lemah dalam berpikir, pelecehan etika dan moral, mematikan kreativitas, menumbuhkan dendam, meruntuhkan motivasi dan dampak lain. Dampak-dampak tersebut seharusnya ditanggulangi untuk memacu pertumbuhan generasi yang inovatif, kreatif dan produktif di kampus.
Padahal hal itu akan berdampak lebih buruk bila telah menjadi tradisi. Dampak dari perlakuan tersebut bisa lemah dalam berpikir, pelecehan etika dan moral, mematikan kreativitas, menumbuhkan dendam, meruntuhkan motivasi dan dampak lain. Dampak-dampak tersebut seharusnya ditanggulangi untuk memacu pertumbuhan generasi yang inovatif, kreatif dan produktif di kampus.